Samuel Barclay Beckett (lahir di Dublin, Irlandia, 13 April 1906 – meninggal 22 Desember 1989 pada umur 83 tahun) adalah seorang penulis buku, drama, dan puisi. Ia juga menerjemahkan banyak karya sastra terkenal lainnya. ia dianugerahi Hadiah Nobel Sastra pada 1969.

Dramanya yang paling terkenal ialah Waiting For Godot (Menunggu Godot). Sering dipentaskan di panggung dan ditayangkan di TV.

Banyak dramatis dan sastrawan lainnya berpendapat bahwa ia adalah penulis terpenting di abad ke-20. Banyak buku tentang dia yang telah ditulis.

Daftar isi [sembunyikan]
1 Bibliografi terpilih
1.1 Karya-karya dramatis
1.2 Prosa
1.3 Puisi
1.4 Terjemahan
2 Rujukan
2.1 Cetak
2.2 Online
3 Catatan
4 Lihat pula
5 Pranala luar

[sunting]
Bibliografi terpilih
[sunting]
Karya-karya dramatis
Teater
Eleutheria (1940s; terbit 1995)
Waiting for Godot (1952)
Act Without Words I (1956)
Act Without Words II (1956)
Endgame (1957)
Krapp’s Last Tape (1958)
Rough for Theatre I (late 1950s)
Rough for Theatre II (late 1950s)
Happy Days (1960)
Play (1963)
Come and Go (1965)
Breath (1969)
Not I (1972)
That Time (1975)
Footfalls (1975)
A Piece of Monologue (1980)
Rockaby (1981)
Ohio Impromptu (1981)
Catastrophe (1982)
What Where (1983)
Radio
All That Fall (1956)
Embers (1959)
Rough for Radio I (1961)
Rough for Radio II (1961)
Words and Music (1961)
Cascando (1962)

Televisi
Eh Joe (1965)
Ghost Trio (1975)
… but the clouds … (1976)
Quad I + II (1981)
Nacht und Träume (1982)

Film
Film (1965)

[sunting]
Prosa
Novel
Dream of Fair to Middling Women (1932; terbit 1992)
Murphy (1938)
Watt (1945; published 1953)
Mercier and Camier (1946; published 1974)
Molloy (1951)
Malone Dies (1951)
The Unnamable (1953)
How It Is (1961)

Novela
The Lost Ones (1971)
Company (1979)
Ill Seen Ill Said (1981)
Worstward Ho (1984)
Cerita
More Pricks Than Kicks (1934)
Stories and Texts for Nothing (1954)
First Love (1973)
Fizzles (1976)
Stirrings Still (1988)

Non fiksi
Proust (1931)
Three Dialogues (dengan Georges Duthuit dan Jacques Putnam)(1958)
Disjecta (1983)
[sunting]
Puisi
Whoroscope (1930)
Echo’s Bones and other Precipitates (1935)
Collected Poems in English (1961)
Collected Poems in English and French (1977)
What is the Word (1989)    [sunting]
Terjemahan
Negro: an Anthology (Nancy Cunard, editor) (1934)
Anna Livia Plurabelle (James Joyce, terjemahan Perancis oleh Beckett, dll.) (1931)
Anthology of Mexican Poems (Octavio Paz, editor) (1958)
The Old Tune (Robert Pinget) (1963)
What Is Surrealism?: Selected Essays (André Breton) (berbagai tulisan singkat dalam kumpulan)


Albert Camus
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Albert Camus

Pekerjaan    Penulis, filsuf
Aliran    Absurdisme
Tema    Ethics, Humanity, Justice, Love, Politics

Dipengaruhi[ Tampilkan ]

Mempengaruhi[ Tampilkan ]

Albert Camus (dilafazkan sebagai [al’bɛr ka’my]) (lahir di Mondovi (sekarang Deraan), Aljazair, 7 November 1913 – meninggal di Villeblin, 5 Januari 1960 pada umur 46 tahun) adalah seorang penulis/filsuf Perancis kelahiran Aljazair. Seringkali ia digolongkan sebagai seorang penulis eksistensialis, tetapi kemungkinan ia lebih tepat disebut sebagai seorang absurdis. Camus adalah seorang keturunan Spanyol.

Pada tahun 1957 ia dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Sastra. Ia teman Jean Paul Sartre, seorang sastrawan eksistensialis dan Simone de Beauvoir. Ia meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan mobil di Villeblevin pada 5 Januari 1960.
[sunting]
Karya

Karyanya antara lain:
Le mythe de Sisyphe, 1942
L’Étranger, 1942
Caligula, 1944
La malentendu, 1944
La peste, 1947
L’état de siège, 1948
Lettres à un ami allemand, 1948
Les justes, 1950
L’homme révolté, 1951
La chute, 1956
L’exil et le royaume, 1957
Le premier homme (tidak selesai, diterbitkan pada tahun 1994 oleh putrinya, di penerbitan Gallimard)


Menyumbang
[Sembunyikan]
Franz Kafka
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Franz Kafka

Foto Franz Kafka di tahun 1906
Pekerjaan    Novelis, cerpenis, pegawai asuransi, manajer pabrik,
Kebangsaan    Ashkenazi Yahudi-Bohemia (Austria-Hungaria)
Gerakan    modernisme, eksistentialisme, Surealisme, pelopor dasar dari realisme magis

Dipengaruhi[ Tampilkan ]

Mempengaruhi[ Tampilkan ]

Franz Kafka (IPA: [ˈfranʦ ˈkafka]) (3 Juli 1883 – 3 Juni 1924) adalah seorang novelis dan cerpenis Bahasa Jerman yang berpengaruh dari abad 20. Penulisan karya-karyanya yang unik telah dianggap memberi pengaruh besar pada sastra barat.[1]

Karyanya yang paling dikenal antara lain Die Verwandlung (Metamorfosis) dan novelnya yang belum diselesaikan Das Schloß (Kastil).Daftar isi [sembunyikan]
1 Bibliografi
1.1 Cerita pendek
1.2 Novela
1.3 Novel
2 Pranala luar
3 Referensi

[sunting]
Bibliografi
[sunting]
Cerita pendek
Beschreibung eines Kampfes, 1904-1905
Hochzeitsvorbereitungen auf dem Lande, 1907-1908
Das Urteil – 22-23 September 1912
In der Strafkolonie, Oktober 1914
Der Dorfschullehrer atau Der Riesenmaulwurf, 1914-1915
Blumfeld, ein älterer Junggeselle, 1915
Der Gruftwächter, 1916-1917, drama satu-satunya yang ditulis Kafka
Der Jäger Gracchus, 1917
Beim Bau der Chinesischen Mauer, 1917
Ein Bericht für eine Akademie, 1917
Ein Landarzt, 1919
Eine kaiserliche Botschaft, 1919
Ein altes Blatt, 1919
Die Abweisung, 1920
Ein Hungerkünstler, 1922
Forschungen eines Hundes, 1922
Eine kleine Frau, 1923
Der Bau, 1923-1924
Josephine, die Sängerin, oder Das Volk der Mäuse, 1924
[sunting]
Novela
Die Verwandlung – November-Desember 1915
[sunting]
Novel
Der Prozeß – 1925
Das Schloß – 1926
‘Amerika – 1927


Unsur-Unsur Intrinsik: Pada Sebuah Kapal (Bab 7 – Bab 10)
a. Tema
Tema yang bisa terlihat pada novel “Pada sebuah Kapal” bab 7 hingga bab 10, tak begitu beda dengan tema secara overall yang dijelaskan oleh novel karya NH DINI. Tema yang dimaksud oleh saya adalah, “Kasih sayang akan berjaya”. Pada mukanya, tema ini tak begitu jelas, hal ini dikarenakan oleh perilaku yang tak baik yang telah diberi kepada Sri oleh suaminya Charles. Walaupun disiksa dan tak diberi kasih sayang tulus oleh suaminya, Sri tetap bisa bersabar dan bertahan dalam pernikahannya, hingga tema “Kasih sayang akan berjaya” bisa menjadi jelas. Sri tetap sayang kepada suaminya hingga semua rasa benci dan rasa pedih bisa ia abaikan dan melanjutkan kisah kasihnya dengan Charles.
b. Latar
Latar pada bab 7 hingga bab 10, ditetapkan pada suatu tempat yaitu negara Jepanpang adalahg, latar belakang bagian 7 sampai 10 ditempatkan oleh Jepang. Ini dikarenakan oleh Sri mengikuti sang suami tercintanya Charles, suaminya mempunyai jabatan yang dipindahkan kepada negara Jepang. Tempat tinggal mereka pada negara Jepang di daerah dalam kota, sehingga Charles bisa mendapatkan cara untuk bisa ngomong bahasa Jepang.
c. Alur Cerita
Alur Cerita tersebut telah berpindah-pindah, tetapi, latar yang tetap dipakai pada bagian bab 7 hingga bab 10, adalah sewaktu Sri berpindah negara kepada Kepang, cerita pada novel tersebut menjadi lebih menarik, dan membuat sang pembaca lebih penasaran kepada kejadian-kejadian yang akan terjadi. Alur cerita pada novel tulisan karya NH DINI, sangat dipengaruhi oleh konflik-konflik yang dialami oleh Sri, fisik maupun emosi.
d. Konflik
Konflik pada bab 7 hingga bab 10, memiliki dua sifat yaitu, konflik fisik dan konflik emosi. Konflik fisik atau eksternal yang terjadi kepada bagian tersebut adalai kepada konflik yang dilihatkan kepada sang pembaca tentang kelakuan Charles kepada Sri. Yaitu, siksaan mental dan fisik yang dialami oleh Sri, dan cara yang dia melupakan dan menghadapi konflik-konflik tersebut. Dengan konflik fisik dan emosi, Alur Cerita dibantu untuk menjadi makin menarik dan membuat sang pembaca makin penasaran.
e&f. Tokoh & Penokohan/Perwatakan
Tokoh-tokoh dan cara menokohkan karakter-karakter tersebut di dalam novel tersebut adalah salah satu cara NH Dini menjadikan novel tulisan karyanya menjadi lebih seru dan makin menarik. Sifat-sifat yang dimiliki oleh Sri adalah seorang istri yang pertamanya lemah lembut, tetapi majunya cerita tersebut, Sri menjadi seorang wanita yang memiliki beberapa perilaku yang keras. Perbedaan dalam sifat Sri, dikarenakan oleh suaminya Charles yang memiliki sifat-sifat sebagai seorang yang berdarah-dingin, dan tak begitu peduli dengan istrinya. Sang pembaca bisa melihat hal-hal tersebut dengan cara penokohan yang dipake NH DINI dengan membuat pembaca membikin inferensi-inferensi tentang sifat-sifat yang dimiliki oleh tokoh dari apa yang dilakukan atau diomongkan oleh tokoh-tokoh tersebut pada bab 7 hingga bab 10.
g. Moral
Moral yang disampaikan pada bagian ini adalah, “Pikirkan konsekuensi sebuah keputusan, sebelum membuat keputusan tersebut”. Tetapi moral tersebut tak begitu jelas pada bab 7 hingga bab 10, dikarenakan oleh presentasi sang moral yang belum utuh sepenuhnya. Sang pembaca hanya bisa membuat inferensi tentang moral yang disampaikan karena, kecepetan keputusan Sri, yang kini membuat ia serasa tersiksa.
h. Sudut Pandang
Sudut pandang yang dipakai pada cerita “Pada Sebuah Kapal” adalah sudut pandang “peninjau”. Kesimpulan tersebut bisa diambil karena cara sang penulis menceritakan peristiwa dan kejadian yang terjadi dengan menyimpan pembaca pada sisi sang tokoh utama. Tokoh utama memberitahu sang pembaca tentang apa yang ia rasakan dan yang ia berpikir.
i. Gaya Bahasa
Gaya bahasa yang dipakai oleh sang penulis, NH DINI, adalah sebuah gaya yang membuat ceritanya menjadi gampang dibaca dikarenakan oleh komunikatifnya novel DINI. Dini memakai kata-kata yang cukup gampang untuk dimengerti dan sang penulis memakai berbagai majas seperti citraan, penokohan tokoh bulat, dll. Dengan memakai berbagai majas-majas tersebut, sang pembaca menjadi lebih menarik dan penasaran kepada cerita yang sedang ia bacakan.


Tulisan karya NH DINI – “Pada Sebuah Kapal” bisa disamakan dengan beberapa cerita dalam kisah hidup NH DINI. Walaupun tokoh-tokoh di novel tulisan Dini, disamarkan dengan nama-nama yang berbeda dari nama asli mereka, peristiwa dan kejadian yang ada pada novel tersebut ada banyak persamaan dengan kisah hidup NH DINI. Dari membaca biografi sang penulis tersebut dan membaca novelnya yaitu “Pada Sebuah Kapal”sang pembaca akan lebih mengerti tentang alur cerita karya tulisan Dini.

Novel NH DINI – “Pada Sebuah Kapal”, adalah sebuah novel yang menarik dikarenakan oleh gaya tulis NH DINI, dan alur cerita yang dimiliki oleh novel tersebut. Di novel tersebut, tokoh utama yaitu Sri, menceritakan kisah hidupnya sewaktu dia masih umur kurang lebih 13 tahun, dan dia menderita dari sakit hati oleh tiadanya sang ayah di hidup sang tokoh utama. Sri, melanjutkan kisah hidupnya dengan menjadi seseorang penari, dan mencita-citakan menjadi seseorang pramugari.

Dengan cita-cita di tangannya Sri, dia melanjutkan kisah hidupnya, dan mengejar kesempatan untuk menjadi seseorag pramugari, namun sewaktu dia menjalankan tes-tes untuk menjadi seorang pramugari dia ketemu sebuah teman lama; tetapi walaupun ia menemukan sebuah teman lama, Sri tak lolos pada tes-tes pramugari, dan ia dikirim kepada sebuah rumah sakit untuk menjalankan perawatan khusus dengan angin segar untuk menyembuhkan penyakit yang ia alami dalam paru-parunya. Hanya dengan waktu 3 bulan, Sri telah menjalankan perawatannya dan ia sembuh, hingga dia bisa bergambung dengan pramugari-pramugari yang lain.

Setelah menjalankan perawatan khusus, Sri balik kepada kota dan ia akhirnya ketemu dengan kekasih hatinya, yaitu Sutopo. Tetapi tak lama lagi, Sutopo meninggal dunia dikarenakan oleh kecelekaan yang ia alami sewaktu lagi terbang. Dengan hancurnya hati, Sri tetap menjalankan kisah hidupnya hingga dia ketemu dan akhirnya menikah dengan seseorang Bangsawan Perancis yang bernama Charles.

Setelah menjalankan pernikahannya dengan Charles, Sri mengikuti sang suami tercinta ke Negeri Jepang. Walaupun Sri tak mengalami pernikahan yang tak begitu manis, ia tetap berkuat hati dan sabar hingga ia masih bisa mempertahankan pernikahannya dengan Charles. Tetapi tak lama lagi “pada sebuah kapal,” Sri bertemu dengan Michel yang sama dengan dirinya, telah memilikki seseorang di dalam lubuk hati mereka, mereka tetap menjalankan mengasih kasih “gelap” mereka. Pada Bagian 2, cerita di dalam novel tersebut, berbolak-balik menceritakan dan membandingkan perasaan yang Sri merasa pada waktu ia masih memiliki Sutopo.

Dengan alur cerita tersebut, tokoh-tokoh seperti Sri, Charles, Sutopo, Michel, dll memeriahkan novel tersebut dengan berbagai cara, seperti memberi kisah cinta gelap, sebuah kisah cinta bertekuk sebelah tangan, dan beberapa titik-titik didalam alur cerita yang membuat sang pembaca merasa sedih, dan mengasih simpati kepada sang tokoh utama, Sri.

Beberapa pokok persoalan yang diberi pada kisah novel karya NH DINI – “Pada Sebuah Kapal” menceritakan bahwa kisah cinta yang dimiliki oleh sebuah pasangan tak akan lelap begitu saja, maupun cinta sejati ataupun cinta “gelap”. Walaupun cinta yang diceritakan oleh Pada Sebuah Kapal ada 2 contoh, yaitu cinta sejati dan cinta gelap, tema tersebut menjelaskan keajaiban dan kejayaan yang dimiliki oleh kata tersebut, “CINTA”.

Dengan alur cerita, pokok persoalan, dan adanya tokoh-tokoh dengan sifat-sifat berbeda, kita sebagai sang pembaca, merasa bahwa cerita yang disampaikan oleh sang penulis sangat asyik, dan bisa dibilang bahwa beberapa kisah dalam cerita tersebut bisa diaplikasikan kepada hidupnya sendiri. Ulasan dan kesan-kesan saya tentang kisah tersebut adalah bahwa kisah yang disampaikan oleh tulisan karya NH DINI – “Pada Sebuah Kapal”; bisa dibilang bahwa cerita tersebut adalah sebuah karya yang sangat bagus dalam hal-hal literatur dan buat bacaan ringan. Tetapi dengan semua ini, kisah yang diberi oleh DINI, menjelaskan sebuah pokok persoalan (tema), yang sangat kuat, yaitu “Cinta akan selalu berjaya”.


Cerita pendek pertama pada karya tulisan Budi Dharma – “Orang-orang Bloomington” diberi judul “Laki-laki tua tanpa nama”. Cerpen tersebut memiliki judul yang sangat pas sewaktu dibanding dengan cerita yang terjadi dalam tulisan tersebut.

Perwatakan:

Perwatakan yang telah dijelaskan di Cerpen tersebut menjelaskan tokoh-tokoh dan sifat-sifat yang mereka miliki dengan cukup jelas dan tak begitu dalam. Darma menjelaskan sifat yang dimiliki oleh 5 tokoh primer yang muncul pada kisah “laki-laki tua tanpa nama”. Dia memperwatakan tokoh-tokoh dengan 2 cara, yaitu dengan  mempresentasikan sifat tokoh dengan jelas (tertulis), dan memaksa sang pembaca membuat inferensi tentang tokoh tersebut dan sikap-sikap mereka. Sewaktu kisah tersebut lagi mengalir, Darma menceritakan kisah sedih yang telah dialami oleh sang “laki-laki tua tanpa nama” hingga sang pembaca bisa merasakan bahwa sifat-sifat yang pertama bisa disebut aneh (menodong pistol dia di luar jendela), adalah sebuah cara untuk menjaga diri. Sang pembaca bisa merasa bahwa sifat laki-laki tersebut menodong pistol keluar jendela adalah sebuah cara yang dipake laki-laki tua itu untuk menjaga diri dari siapapun yang ingin menyakiti dia. Inilah salah satu cara yang dipake oleh Darma untuk menjelaskan perwatakan yang dimiliki oleh tokoh-tokoh dalam cerpen tersebut.

Tetapi dengan Darma memakai cara perwatakan hingga sang pembaca harus membuat inferensi tentang tokoh-tokoh tersebut, dia juga menjelaskan watak tokoh dengan cara tertulis atau dipresentasikan dengan jelas. Sebuah contoh yang bisa diberi untuk menjelaskan gaya perwatakan tersebut adalah sewaktu tokoh utama pertama menjelaskan tampilan fisik yang dimiliki oleh laki-laki tua tersebut: “…seorang laki-laki tua sekitar enam puluh tahun.”

Dikarenakan oleh kriteria-kriteria yang harus dimilikki oleh sebuah cerpen untuk dipanggil sebuah “cerpen,” yaitu untuk tidak menjelaskan sifat  yang dimiliki oleh tokoh dengan begitu dalam. Darma memakai gaya perwatakan inferensi, yaitu dimana sang pembaca harus memikirkan sifat-sifat yang dimiliki oleh seseorang tokoh dari apa yang mereka lakukan dan apa yang mereka katakan.

Latar

Latar atau setting pada cerpen “laki-laki tua tanpa nama” adalah Fess, tetapi waktu peristiwa kejadian tak dijelaskan; sang pembaca harus membuat sebuah inferensi untuk menjelaskan waktu kejadian. Pekerjaan para tokoh didalam cerpen tersebut tak di jelaskan, tetapi ada beberapa tokoh sampingan yang diceritakan pekerjaan mereka (contoh: supir taksi, pekerja toko). Tetapi pekerjaan tokoh tak begitu mengganti alur cerita dengan drastis, dan suasana umum yang diperlihatkan kepada cerpen tersebut tak begitu menggantikan alur, tetapi mengasih sebuah tambahan kepada cerpen yang membuat tulisan karya Darma menjadi lebih menarik.

Sudut Pandangan

Sudut pandangan yang dipakai pada cerpen “laki-laki tua tanpa nama” adalah sudut pandangan “peninjau”. Pernyataan tersebut bisa dijelaskan dikarenakan sifat-sifat sudut pandangan yang dimiliki oleh sudut pandangan seseorang “peninjau” yaitu: Seluruh kejadian yang muncul di cerita didapatkan dari tokoh, Tokoh memaparkan semua yang dirasa, dilihat, dipikirkan, dihayati, ataupun pengalaman, Tokoh utama hanya melaporkan tokoh-tokoh lainnya.

Sifat-sifat tersebut bisa dilihat pada cerpen “laki-laki tua tanpa nama” karena kisah tersebut diceritakan dengan seseorang tokoh utama yang menjelaskan segala yang ia rasakan, melihat, dan mempikir. Beberapa contoh yang bisa diberi untuk menjelaskan sifat-sifat tersebut bisa dibaca pada cerpen tersebut: “Apa yang terjadi hari berikutnya pun saya kurang tahu, kecuali tubuh saya panas bagaikan terbakar…”. Pada kalimat tersebut tokoh utama menjelaskan perasaan yang dia alami kepada sang pembaca, ini adalah salah satu contoh untuk memperjelaskan sifat-sifat sudut pandangan “peninjau” yang dipakai oleh cerpen “laki-laki tua tanpa nama.”

Gaya

Gaya Bahasa yang telah dipakai oleh Budi Darma, pada cerita tersebut adalah gaya bahasa yang memakai grammar, penggunaan kata, dan alat-alat literatur yang gampang dan tak begitu komplek. Beberapa alat literatur yang dipakai oleh sang penulis adalah metafora, dan imajeri. Darma memakai alat-alat literatur untuk membuat cerpen tersebut menjadi lebih menarik, sekaligus dengan membuat tulisan karyanya makin menakjubkan dan menarik untuk dibaca; dia membuat gaya tulis khas yang hanya dimiliki oleh sendirinya.

Plot

Plot yang terlihat pada cerpen berjudul “Laki-laki Tua Tanpa Nama” bermula dengan latar yaitu di Fess, pada waktu yang tak cukup jelas. Tokoh utama menjelaskan ada penghuni baru pada apartmen milik Nyonya Casper. Permulaan pada cerita tersebut menceritakan adanya penghuni baru yang memungkinan adanya permasalahan pada Fess. Pada titik ini, muncullah pertikaian yang ada pada cerita pendek tersebut. Lelaki tua ini menyebabkan tokoh utama untuk menjadi tertarik kepada alasannya untuk menodongkan pistol miliknya ke luar jendela loteng miliknya. Sewaktu cerpen mengalur, tokoh utama mendapata berbagai informasi mengenai sang lelaki tua tersebut, pada titik-titik tersebut pada alur cerita, sang pembaca merasa bahwa akan ada akhirnya; tetapi sebuah pertikaian baru muncul hingga pengakhirannya menyebabkan Nyonya Casper menembak sang lelaki tua dan mengakhiri pertikaian tersebut yang menyebabkan kematiannya sang lelaki tua.

Alinea Awal, Alinea Akhir

Alinea Awal yang dipakai oleh Darma cukup menarik perhatian kepada cerpen tulisannya Budi Darma, dengan cara dia langsung mengatakan latar dimana peristiwa kejadian terjadi. Darma mengambil perhatian pembaca dengan melanjutkan cerita dari alinea awal yang menyimpan sang pembaca di tempat kejadian peristiwa.

Alinea akhir yang dipakai oleh Darma bagus dikarenakan oleh akhir yang cukup menarik dan efektif untuk menutup cerita. Pada akhir cerpen tersebut, sang tokoh utama bertanya-tanya kepada diri sendiri, tetapi walaupun sang pembaca melihat pertanyaan-pertanyaan tersebut, sang pembaca cukup “kenyang” membaca cerpen tersebut, ini bisa dibilang karena pembaca udah mendapat pembukaan, pertikaian, dan pengakhiran yang cukup “mengenyangkan”.


Bab 1:

–          Bapak Sri mengucap kalimat apa sewaktu menunjuk kepada Sri di tempat belajar tari?

–          Dampak apakah yang telah diberi oleh Bapak Sri kepadanya?

Bab 2:

–          Mengapa Ibu Narti tidak setuju kepada Narti, seketika dia pengen menjadi sebuah pramugari?

–          Apakah pentingnya Salatiga dalam bab tersebut?

Bab 3:

–          Ceritkan apa yang tidak akan dihargai oleh negeri Sri sendiri, dan mengapa?

–          Pada akhir bab tersebut, mengapa Sri bersenyum kepada dirinya sendiri?

Bab 4:

–          Apa maksud “…tanggung jawab dari kerja…” yang diucapkan Sri?

–          Jelaskan ikatan Sri dengan Sutopo?

Bab 5:

–          Gambarkan perasaan Sri kepada Charles?

–          Jelaskan perasaan hati Sri kepada teman dekatny Narti tentang orang India yang menyukai Narti, dan ceritakan mengapa Sri merasa gini?

Bab 6:

–          Ceritakan berita buruk yang disampaikan oleh Kepala Kantor Angkatan Udara kepada Sri?

–          Jelaskan reaksi dan kepedihan yang dirasakan oleh Sri?